Senin, 02 Mei 2011

AKU DAN DIA

Seingat aku sebelum itu tidak pernah ayah, aku dan dia berjalan bersama-sama pada waktu
malam. Maklumlah keluarga besar dan susah, apalah yang boleh kami lakukan jika keluar bersantai
pada waktu malam di kota, cuma membuang masa dan wang saja rasanya. Sehinggalah pada suatu
malam tiba-tiba aku mengalami muntah-muntah yang teruk. Aku tidak pasti apa yang berlaku tapi
badanku sudah lembik, mukaku sudah biru. Ketika itu aku cuma berumur lebih kurang lapan tahun.
Apa sangatlah yang aku tahu tentang kesihatan. Akhirnya ayah, aku dan dia merasa juga keluar
bersama pada waktu malam. Keseronokan cuma mampu kurasakan di dalam hati, kalau ingin
melonjak pun aku tidak mampu. Sepanjang perjalanan ke hospital dan pulang ke rumah aku
tersenyum sendirian. Cuma dengan berjalan-jalan bersama dengan ayah dan dia aku merasa sudah
sembuh. Hilang ketakutan pada doktor (tapi memang aku tidak pernah takutkan doktor sebenarnya).
Aku perhatikan bagaimana ayah dan dia saling mengasihi antara satu dengan lain. Kasih sayang

Air Mata Di Malam Pertama

Hari ini adalah hari yang cukup bermakna bagi diriku. Aku akan diijab kabulkan dengan seorang lelaki
yang tidak pernak kukenali pilihan keluarga. Aku pasrah. Semoga dengan pilihan keluarga ini beserta
dengan rahmat Tuhan. Bakal suamiku itu kelihatan tenang mengadap bapaku, bakal bapa mentuanya.
Mereka berkata sesuatu yang aku tidak dapat mendengar butir bicaranya. Kemudian beberapa orang
mengangguk-angguk. Serentak dengan itu, para hadirin mengangkat tangan mengaminkan doa yang
dibacakan lelaki itu.
Ana dah jadi isteri! Bisik sepupuku sewaktu aku menadah tangan. Tidak semena-mena beberapa titis air
mata gugur keribaanku. Terselit juga hiba walaupun aku amat gembira. Hiba oleh kerana aku sudah
menjadi tanggungjawab suamiku. Keluarga sudah melepaskan tanggungjawab mereka kepada suamiku
tatkala ijab kabul.

Kamis, 29 Juli 2010

SINOPSIS Api di Bukit Menoreh

Penulis memasuki "arena" ini atas undangan Nein Arimasen di Milis KPH. Karena ulasan atas KPH dan para Sepuh pencipta cerita silat lainnya sudah bejibun, saya memilih meresensi dan membuatkan artikel bagi penulis lokal yang tidak kalah "kuat" dan tidak kalah "kualitas" dibanding mereka yang sudah terkenal. Memang agak aneh, saya menulis artikel untuk SH Mintardja, tokoh yang membuat saya lebih mencintai budaya Jawa. Harusnya saya menulis buat Farry Oroh, yunior saya yang makin produktif. Tapi karena Pendekar Negeri Minahasanya belum tamat, saya belum melakukannya, kecuali di milis yang para penghuninya adalah Orang Minahasa.

Sang Terkutuk

TIUPAN angin lirih dari arah Hutan Saptarengga yang membawa harum cempaka dan kemudian menyingkapkan kainmu, Dinda, sehingga memperlihatkan putih betismu - betis terindah di mayapada - membuatku sekali lagi harus mati-matian menahan gelegak cinta. Sepanjang hayatku, aku mampu menghadapi sesakti apa pun ajian serta pusaka. Namun, menghadapi kecantikanmu, aku selalu terkapar tak berdaya apa-apa.
Derita apalagi yang lebih berat daripada tidak bisa mengecap cinta justru dari kekasih yang setiap hari mengiringi?

Perempuan Langit

AKU belum merelakanmu pergi malam ini, Perempuan. Aku tahu kau akan kembali ke langit pada saat bulan gerhana dan orang-orang kampung menabuhi segala logam dan besi. Ahai, begitu memang kesepakatan yang kita buat, Perempuan Langit.
Tapi tidak malam ini! Tidak gerhana bulan ini kali! Aku berhak memaksamu tetap tinggal. Serumah dan seranjang bersamaku terus. Seperti telah sekian purnama kita lewati. Bersekasih. Aku sudah telanjur jatuh cinta kepadamu. Kau pergi aku merana. Aku mati.

Pengemis dan Jutawan

Begitulah, dia sangat pelit sekali! Dia tidak pernah memberikan uang kecil kepada siapapun, apakah kepada pengungsi atau Palang Merah; dia bahkan tidak ingin mendengarkan hal-hal semacam itu. Dia ingin menjaga uangnya agar tetap utuh. Untuk pengeluaran sehari-hari, dia juga sangat, sangat ahli dalam kepelitannya. Maka istri, anak-anakn, ibu, dan saudara-saudarinya – sengsara.

Mental Kelelawar di Negeri Kelelawar

Suatu hari --yang rasanya biasa-biasa saja-- selepas dluhur --yang juga terasa biasa saja-- aku masih duduk di serambi masjid. Ada yang tidak biasa di pohon beringin itu. Tak hanya ada ratusan kelelawar, tapi di bawah pohon muncul puluhan binatang. Ada kambing, kancil, lembu, ular, biawak, ayam jago, orang utan, gajah, babi hutan, dan beberapa binatang darat, binatang melata, dan mamalia lain.